Segumpal Daging itu Bernama Hati

by July 30, 2020

Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya di dalam tubuh anak adam terdapat segumpal daging. Jika baik maka baiklah seluruh tubuhnya, ketahuilah, ia adalah hati”. (HR. Bukhori)

Hati adalah raja yang menggerakkan seluruh anggota badan. Hati bersemayam di dalam dada, dilindungi, dikelilingi dan dilayani oleh anggota badan yang lain. Hati merupakan anggota badan manusia yang paling mulia. Hati seumpama cermin, selama cermin itu bersih dari kotoran dan noda, maka segala sesuatu dapat terlihat padanya. Tetapi, jika cermin itu dipenuhi noda, sementara tidak ada yang dapat menghilangkan noda darinya dan mengkilapkannya, maka rusaklah cermin itu.

Menjaga kondisi hati untuk senantiasa istiqomah berada di jalan Allah tidaklah mudah. Kesibukkan serta rutinitas yang menguras tenaga dan pikiran, serta interaksi yang terus menerus dengan hal duniawi. Jika tidak diimbangi dengan “pelembut” hati dapat membuat hati menjadi keras, kering lalu mati. Lalu apa saja yang dapat melembutkan hati:

1. Dzikrullah dan tilawatil Qur’an

Dengan senantiasa menyebut dan mengingat Allah, menfaatnya sangat besar. Sebagaimana firman-Nya: “Ingatlah bahwa hanya dengan selalu mengingat Allah hati menjadi tentram”. (QS. Ar-Ra’du: 28). Sebaik-baik zikir adalah membaca al-qur’an. Karena al-Qur’an berkhasiat sebagai penyembuh hati dari semua penyakit gundah.

2. Banyak Istighfar

Hakikat istighfar adalah untuk memohon ampunan dan batasan serta penjagaan dari keburukan yang diakibatkan dosa. Hendaklah seseorang itu memperbanyak istighfar kepada Allah dimanapun berada. Sebab seseorang itu tidak tahu dimana tempat maghfirah itu turun. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya aku selalu mohon ampunan kepada Allah sehari semalam lebih dari tujuh puluh kali”. (HR. Bukhari)

3. Memperbanyak amal shalih

Sesungguhnya amal shalih yang dilakukan secara kontinyu oleh seorang adalah lebih disukai oleh Allah. Sebagaimana sabda Nabi saw: “Amal yang paling disukai Allah adalah yang berkelanjutan walaupun sedikit”. (HR. Bukhari Muslim)

4. Banyak mengingat mati

Rasulullah saw bersabda: “Banyak-banyaklah mengingat penebus kelezatan yakni kematian”. (HR. Tirmidzi). Dengan mengingat kematian, kita selalu berpikir bahwa hidup ini sementara dan akan ada kehidupan yang kekal di kemudian hari. Hal ini membuat kita selalu berhati-hati dalam melangkah serta bertingkah laku selama hidup, karena tidak ada seorangpun yang tahu kapan kematian seseorang sehingga membuat kita selalu menjaga amal dan perbuatan.

5. Memikirkan kehinaan dunia

Dengan menyadari bahwa dunia hanya sementarta, maka perlunya kita memfokuskan hidup ini untuk berorientasi kepada sesuatu yang lebih tinggi, yaitu kehidupan akhirat. Bukan berarti menghindari dunia. Tetapi, menjadikannya sebagai sarana untuk menggapai kehidupan ukhrawi. Karena itu pikirkan bahwa dunia itu hina. Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya makanan anak Adam itu bisa dijadikan perumpamaan bagi dunia. Maka lihatlah apa yang keluar dari diri anak Adam, dan sesungguhnya dari rempah-rempah serta lemaknya sudah bisa diketahui akan jadi apa ia”. (HR. Tirmidzi).

Selain itu, ada pula hal-hal yang bisa mengotori atau mengeraskan hati karena setiap yang tidak berfaidah adalah racun bagi kehidupan manusia. Apa lagi kemaksiatan dan dosa yang dilakukan manusia. Karena ia akan meninggalkan noda hitam pada hati, yang akhirnya akan mengotori kesucian hati. Oleh karenanya, perlu kita hindari beberapa hal berikut ini agar kebeningan hati tetap terjaga dan kesuciannya terus terpelihara.

1. Berlebihan dalam berbicara

Umar bin Khattab ra pernah berkata: “Barang siapa yang banyak bicaranya, maka banyaklah kesalahannya. Sehingga nerakalah sebaik-baik tempat bagi mereka”. Benyak berbicara adalah salah satu faktor yang menyebabkan hati menjadi keras. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda: “Janganlah memperbanyak kata (bicara) selain dzikrullah, karena banyak bicara selain dzikrullah menjadikan hati keras. Dan orang yang terjauh dari Allah adalah orang yang berhati keras”. (HR. Tirmidzi).

2. Terlalu Banyak Makan

Alangkah banyak kemaksiatan yang tersulut akibat makan yang berlebihan dan menghalangi ketaatan manusia kepada sang Khalik. Karenanya siapa yang mampu menjaga perutnya dari sifat serakah, maka ia benar-benar membuktikan bahwa ia mampu menjaga diri dari keburukan yang lebih fatal lagi. Rasulullah saw bersabda: “ Anak Adam tidak memenuhi wadah yang lebih buruk dari pada ia memenuhi perutny. Cukuplah baginya beberapa suap untuk menguatkan tulang rusuknya. Jika memang tidak memungkinkan, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga untuk nafasnya”. (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Sedikit makan dapat melunakkan hati, menajamkan otak, merendahkan nafsu birahi dan melemahkan nafsu amarah. Sedangkan bila banyak makan sampai kekenyangan akan berakibat sebaliknya.

3. Melakukan kemaksiatan

Allah swt berfirman: “Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melampaui batas”. (QS. Al-Kahfi: 28)

Allah swt telah memerintahkan kepada setiap mukmin dan mukminah untuk menundukkan pandangannya, yang demikian itu lebih suci bagi hati mereka, dan juga mereka akan merasakan manisnya iman. Sekarang bagaimana jika perintah itu dilanggar, maka jelas akan menyebabkan fitnah bagi hati pelakunya. Yaitu rusaknya kesucian hati itu sendiri oleh angan-angan dan keindahan semu yang dibisikkan setan hingga ia akan berbuat melampaui batas sampai hilang akal sehatnya dan menjadi pengabdi hawa nafsu.

Semoga hal-hal tersebut bisa dihindari sehingga kita bisa menjaga hati agar tidak terkotori dan bisa menjadi lentera hidup ini. Semoga Allah yang menata hati menetapkan kita dalam istiqamah di jalan-Nya hingga akhir hayat nanti. “Ya Muqallibal qulub tsabbit qulubana ala tha’atika”.

Kuswanto, Alumni Krapyak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *