Sepotong Hikmah untuk Syakir

by December 6, 2016

Pria itu melangkah gontai terseok-seok. Seakan puluhan kilo beban yang menempel di kakinya. Berat ia langkahkah kaki. Perlahan, seperti keledai tua yang menarik kereta di pundaknya. Matahari sudah tidak begitu terik, akan tetapi panasnya seolah tak mau pergi menggelayutinya. Syakir mengusap peluh yang hampir mengering. Pria itu telah makan banyak usia, menjelang kepala empat dengan istri dan dua anak yang masih kecil.

Syakir bingung apa yang akan ia katakan kepada istrinya nanti, sampai hari ini ia belum bisa membawa apa-apa ke rumah.

“Pak, bagaimana hari ini?” Tanya Imah, istrinya

“Belum bu, tadi bapak sudah keliling, tapi belum dapat. Sabar ya”. Jawab Syakir lirih.

Itu dua hari yang lalu. Tentu ia tidak akan menjawab pertanyaan istrinya hari ini dengan jawaban yang sama. Ia bingung jawaban dan alasan apa yang akan disampaikan kepada istrinya. Ia tidak mau melihat wanita yang telah mendampinginya bersedih. Walaupun wanita itu tidak pernah terlihat meneteskan air mata di hadapannya. Ia mengerti bahwa istrinya sedang menanggung beban hidup yang tidak ringan. Membesarkan dan mendidik dua buah cintanya, bukan perkara yang mudah. Sedangkan ia hanya pekerja serabutan, yang penghasilannya tidak menentu.

Sudah dua hari ini, ia belum mendapat penghasilan, biasanya selalu ada saja orang yang membutuhkan jasanya, memperbaiki saluran air, memasang keramik, atau memasang instalasi listrik rumah. Apa saja ia kerjakan, apabila ada orang yang membutuhkan jasanya. Pernah suatu hari, ia diminta memperbaiki septic tank rumah yang bocor atau memperbaiki atap rumah. Bergumul dengan terik sudah biasa ia lakukan. Bergelut dengan bau tak sedap kerap ia lakukan, demi kelangsungan ekonomi rumah tangganya. Tinggal di kota besar seperti ini, harus mau kerja keras. Kalau tidak, bisa-bisa anak dan istrinya terlantar.

Ia sadar pendidikannya tidak seberapa tinggi, sehingga ketika ada kawannya yang menawarkan lowongan pekerjaan, ia terganjal pada ijazah. Kalau saja, aku punya ijazah, pasti hidupku tidak seperti ini, kadang Syakir kerap berandai-andai. Secara kemampuan aku tidak kalah dengan sarjana-sarjana lain. Hanya saja aku tidak sekolah, sehingga tidak memiliki ijazah.

Beruntung ia memiliki istri sebaik, dan sesabar Imah. Gadis desa yang ia sunting tiga belas tahun yang lalu. Seorang istri yang tak pernah mengeluh tentang keadaan ekonomi keluarga, mau bersabar ketika suaminya dalam keadaan susah serta tulus membesarkan buah hatinya. Keyakinannya makin kuat, ketika Imah bersedia diajak merantau ke Tangerang. Sebelumnya ia tinggal di rumah mertua, menumpang di rumah orangtua Imah, di daerah Bantul, Yogyakarta. Awalnya keluarganya baik-baik saja, akan tetapi karena pekerjaannya tidak tetap, kadang ia mendapat borongan, kadang pula hari itu tidak ada sepeser uangpun yang ia terima. Penghasilan yang tidak menentu membuat Syakir di mata keluarga istrinya, kurang mendapat respon yang baik. Tidak jarang perkataan pedas ia terima, semuanya ia tanggapi dengan kepala dingin. Bagaimanapun mereka adalah orang tua wanita yang ia cintainya, orang tua yang telah membesarkan wanita yang kini menjadi pendamping hidupnya.

Ora ilok, membantah orang tua, itulah pesan yang ia pegang erat dalam-dalam. Pesan pamannya, sebelum ia pergi selama-lamanya. Syakir kecil hidup bersama pamannya, dibesarkan oleh kasih sayang seorang petani, karena kedua orang tuanya meninggal dunia ketika ia masih kecil. Pak Asman adalah seorang paman yang tiada duanya menurut Syakir. Seorang laki-laki yang dapat memegang tiga peranan sekaligus. Menjadi ayah, menjadi ibu dan menjadi guru baginya. Tiga peran yang tidak semua orang mampu untuk mengembannya.

“Orang tua itu ada tiga macam, pertama, orang yang melahirkan kamu. Kedua, orang yang mengajarkan ilmu kepada kamu, dan ketiga, orang tua yang anaknya kamu nikahi”.

Pesan pamannya yang masih selalu ia ingat sampai saat ini, sebuah mantera yang menguatkan batinnya untuk tetap menghormati orang tua istrinya. Seburuk apapun, sepahit apapun perlakuan yang pernah ia terima dari orang tua istrinya. Ia tidak pernah mengadukan perihal orang tua istrinya kepada istrinya sendiri, mungkin Imah sudah mengetahuinya sejak lama, katanya dalam hati. Mungkin semua orang juga mengalami hal yang sama ketika ia menumpang hidup di rumah mertua, pikir Syakir.

Akhirnya, kesabaran Syakir benar-benar terkuras, ketika mertuanya menjelek-jelekan kedua orang tuanya bahkan paman yang membesarkannya, ia sadar ia orang tak punya, tapi masih punya harga diri setidaknya, dan ia tidak ingin ada orang yang merendahkan paman yang selama ini membesarkannya dengan sepenuh hati. Ia hanya ingin menjalani hidup dengan tenang, bersama istri dan anaknya. Ia memutuskan untuk merantau, mengajak serta anak dan istrinya, menuju salah satu kota industri terbesar di Jawa Barat. Berdasarkan informasi yang diterima Syakir dari Aryo, teman semasa kecilnya dahulu, kota ini memiliki lapangan pekerjaan yang banyak. Karena kawasan perindustrian pasti membutuhkan pekerja yang banyak pula. Aryo telah tiga tahun menjadi buruh di pabrik sepatu, tergiur oleh cerita Aryo, maka Syakir memutuskan untuk menyusulnya ke Tangerang.

Syakir ternyata lupa, bahwa ia tidak mengenyam pendidikan sekolah yang tinggi. Ketika Aryo mencarikan lowongan pekerjaan kepadanya, ia tidak dapat berbuat banyak karena selalu saja satu yang menjadi kendala, yaitu Syakir tidak memiliki ijazah. Berbekal pengalamannya di desa, syakir mencoba peruntungannya dengan bekerja serabutan. Untuk sementara, sebelum ia benar-benar dapat pekerjaan yang cukup untuk menafkahi anak dan istrinya. Sebagai pekerja serabutan, ia tidak banyak berharap, kadang ia pulang dengan hasil yang cukup untuk hidup beberapa hari ke depan, kadang ia pulang dengan tangan hampa.  Sudah dua hari ini, ia belum mendapat penghasilan. Semoga uang dari buruh sebagai tukang bangunan kemarin masih cukup, untuk membeli susu dan ongkos sekolah anaknya, harapnya.

“Tadi Ibu Asih datang ke rumah, menanyakan uang kontrakan”.

Ia tahu siapa Bu Asih, ia adalah orang yang tidak pernah mengenal istilah “menunggak” apalagi “menghutang”. Seandainya ada orang yang berani menunggak, harus siap diceramahi dan menerima kata-kata pedas dari wanita setengah baya tersebut. Syakir tidak tega, bila istrinya terus mendapat perlakuan buruk dari Bu Asih ketika ia datang ke rumah menagih uang kotrakan. Ia bertekad untuk membayar semua tunggakannya bulan ini. Termasuk tunggakan SPP anaknya yang sudah tiga bulan belum ia bayarkan. Tak pernah ia, mengeluhkan hal ini kepada Syakir. Sepertinya Imah cukup mengerti bahwa Syakir sudah berusaha sekuat tenaga untuk mencari nafkah untuknya.

“Urip iku kudu wani rekoso”. Ucap istrinya suatu hari, ketika persediannya makanan di rumah benar-benar habis. Ia termasuk istri yang teguh menemani suami di kala susah maupun senang. Walaupun terkadang banyak susahnya dibandingkan senang, senyumnya tidak pernah lekang untuknya. Sambutan dan kasih sayang yang ranum selalu ia persembahkan ketika suaminya pulang ke rumah kontrakan, istana cinta mereka.

Syakir pernah pernah terpikir untuk bekerja pada orang lain atau menjadi buruh di pabrik, agar memiliki penghasilan yang rutin. Sebelumnya, ia pernah bekerja sebagai tukang bangunan pada Pak Adang, seorang mandor terkenal di kampungnya. Mandor Adang, orang menyebutnya. Bekerja pada mandor Adang membuatnya memiliki penghasilan yang rutin. Tapi itu juga tidak berlangsung lama, karena mandor Adang membayarnya dengan upah yang minim. Pernah ia disuruh memperbaiki rumah, tapi ia hanya diberikan upah enam puluh ribu setiap hari, padahal upah pasaran seorang tukang biasanya delapan puluh sampai seratus ribu per hari. Itu belum termasuk makan dan rokok. Upah yang tidak masuk akal, menurutnya, sebelum ia memutuskan untuk bekerja sendiri, tidak ikut pada Mandor Adang lagi.

Hari sudah menjelang sore. Matahari akan mengakhiri piketnya, sinarnya makin lama makin redup. Paling tidak, ia sudah bisa berjalan tegak lagi, karena di tikungan jalan tadi, ia bertemu dengan pak Agung. Ia memintanya untuk memperbaiki atap rumah. Setelah maghrib, ia diminta untuk ke rumahnya. Pak Agung ingin membicarakan masalah bahan bangunan dan tentunya, besaran upah untuknya. Walaupun belum jelas, kapan ia akan menerima hasil, tapi paling tidak ia dapat menyampaikan kabar gembira ini kepada istrinya.

*  *  *

Syakir sudah rapi, ia langung membersihkan diri begitu sampai ke rumah. Ia tidak sabar ingin memberitahukan kabar gembira ini kepada istrinya. Ia tidak ingin istrinya terus memikirkan uang kontrakan yang menunggak atau bayar SPP yang belum terbayarkan. Dalam beberapa hari ke depan, ia berharap, hidupnya akan kembali normal. Tidak ada lagi omelan atau kata-kata pedas yang mendarat di telinga istrinya. Tidak untuk hari ini, tidak juga untuk hari-hari mendatang.

Ia seruput kopi panas yang dibuatkan istrinya. Lebih enak dari kopi yang biasa ia minum, di sela-sela istirahat siangnya. Lebih enak dari starbuck atau restaurant manapun, Karena ada setetes ramuan cinta yang dicampurkan istrinya dan sesendok kasih sayang yang membuat kopi sore itu begitu istimewa. Meskipun hanya ditemani singkong goreng. Ela, anaknya keduanya yang berumur dua tahun ia pangku sambil mendengarkan kicauan radio butut yang ia bawa dari kampung. Lelah sehari penuh akan hilang seketika, ketika ia bertemu dengan buah hatinya, obat mujarab yang tidak tersedia di apotek manapun.

“Tok, tok, tok…… Assalamu’alaikum…”

Ada orang mengetuk pintu kontrakannya, siapa gerangan yang datang di sore hari seperti ini. Syakir tidak berharap Bu Asih yang datang, karena hari ini ia belum memegang uang sama sekali. ia tidak siap untuk mendengar omelannya untuk yang kedua kali, dalam seminggu terakhir ini.  Siapa ya?, tanya Syakir dalam hati. Ia masih ingin melepas kerinduan dan bermain dengan si kecil dahulu, ia menyuruh istrinya untuk membukakan pintu.

“Bu, tolong bukakan pintu depan, sepertinya ada orang yang mengetuk”.

“Iya pak”.

Imah bergegas, setelah ia merapikan jilbabnya dan membuka pintu depan. Terdengar Imah bercakap-cakap dengan seorang wanita, dari suaranya, jelas itu bukan Bu Asih. Lega, pikirnya untuk sementara.

“Siapa bu?” Tanya syakir

“Menantunya Bu Asih”. Jelas Imah

“Wah, mau menagih uang kontrakan ya bu?”. Syakir memotong ucapan istrinya

“Bukan pak, ia ingin datang mengundang bapak untuk hadir di rumahnya. Ia mengadakan selamatan nanti malam, ba’da Isya’”.

Syakir terkejut mendengar perkataan istrinya barusan, belum sempat ia bercerita pada istrinya bahwa ia akan ke rumah Pak Agung setelah Isya’. Sekarang, malah ada undangan untuk hadir di acara selamatan menantunya Ibu Asih, di waktu yang sama.

“Bagaimana ya bu? Aku datang atau tidak ya?”

“Kok begitu?”

“Aku mau ke rumah Pak Agung, beliau ingin menyampaikan sesuatu, terkait dengan pekerjaan renovasi atap rumahnya, setelah Isya’”.

“Acara selamatan di rumah menantunya Bu Asih juga setelah Isya’. Mana yang harus aku pilih?”.

“Lebih baik datang ke acara selamatan dulu pak, kan rumahnya lebih dekat, rumah Pak Agung kan jauh, kalau ke rumah pak Agung dahulu, nanti pasti telat, mungkin juga sudah selesai acara selamatannya. Kita enggak enak, wong dia itu menantunya Bu Asih, yang punya kontrakan”.

Syakir bingung, ia tidak mungkin datang telat ke rumah Pak Agung. Pak Agung adalah orang yang disiplin dan tegas. Ia tidak suka orang yang tidak tepat waktu. Dulu saja, si Slamet pernah dipecat, karena ia mengerjakan pagar rumah tidak tepat waktu. Slamet menjanjikan seminggu sudah selesai, tetapi seminggu lebih pagarnya belum selesai. Sehingga Slamet tidak lagi dipercayainya. Ia tidak ingin bernasib sama dengan Slamet. Tapi ia juga tidak ingin membuat Bu Asih marah besar, karena ia tidak lekas membayar tunggakan uang kontrakan, ditambah ia tidak datang selamatan di rumah menantunya.

“Pak Agung pasti bisa memaklumi keadaan bapak, bapak jelaskan saja nanti setelah bapak dari acara selamatan. Bapak bisa langsung ke rumah Pak Agung.” Imah memberi saran.

Syakir terdiam. Berpikir masak-masak. Akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti saran Imah, istrinya. Ia datang ke acara selamatan terlebih dahulu, baru setelah itu ia ke rumah Pak Agung. Semoga saja Pak Agung bisa mengerti, doa Syakir dalam hati.  Seandainya tidak, ia berharap akan ada pekerjaan lagi yang lain untuknya, esok hari.

*  *  *

Setelah memotong tumpeng, jamaah yang sebagian besar adalah bapak-bapak dipersilahkan mencicipi nasi kuning yang tersedia. Syakir mencicipi nasi kuning itu, cukup untuk mengganjal perutnya yang belum terisi makanan sejak sore tadi. Pikirannya masih melayang-layang memikirkan pekerjaan di rumah Pak Agung. Setengah hati, saat ia membaca al-Qur’an tadi. Ia berusaha merangkai kata-kata apa yang akan ia sampaikan kepada Pak Agung, alasan kenapa ia tidak memenuhi janjinya. Tak usah mengarang-ngarang, katakan saja sejujurnya, pikir Syakir. Kebohongan yang satu akan memicu kebohongan yang lain.

Setelah jamaah selesai mencicipi tumpeng, ustadz Salman menyampaikan mau’idhoh hasanah, ustadz muda yang baru saja selesai mondok di Tebu Ireng, Jawa Timur. Beliau sengaja diundang untuk mengisi acara selamatan.

“Tumpeng merupakan akronim dalam bahasa Jawa: yen metu kudu sing mempeng. Lengkapnya, ada satu unit makanan lagi namanya “Buceng”, dibuat dari ketan; akronim dari: yen mlebu kudu sing kenceng. Sedangkan lauk-pauknya tumpeng, berjumlah 7 macam, angka 7 bahasa Jawa pitu, maksudnya Pitulungan. Tiga kalimat akronim itu, berasal dari sebuah doa dalam surah al-Isra’ ayat 80: “Robbi adkhilni mudkhola sidqin, wa akhrijni mukhroja sidqin, waj’alni min ladunka sultonan nasiro”. Artinya:  Ya Tuhan, masukanlah aku dengan sebenar-benarnya masuk dan keluarkanlah aku dengan sebenar-benarnya keluar serta berikanlah kepadaku dari sisi engkau, kekuasaan yg menolong. Lha, maksudnya apa? Sampeyan pasti bingung kalo sekedar membaca terjemahan seperti itu. Maksudnya, kita memohon kepada Allah supaya kita memasuki suatu ibadah dan selesai daripadanya dengan niat yang baik dan penuh keikhlasan serta bersih dari riya dan dari sesuatu yang merusakkan pahala. Ada juga yang menafsirkan: memohon kepada Allah supaya kita memasuki kubur dengan baik dan keluar pada waktu hari berbangkit dengan baik pula.

Menurut beberapa ahli tafsir, doa ini dibaca Nabi Muhammad SAW waktu akan hijrah keluar dari kota Mekah menuju kota Madinah. Ustadz Salman melanjutkan ceramahnya.

“Surat al-Israa’ termasuk surat Makiyah, tapi momen turunnya ayat ini pas ketika Nabi SAW sedang diancam mau dibunuh orang-orang kafir Quraish. Jadi secara sejarah, ayat ini juga mengisyaratkan kepada Nabi SAW supaya berhijrah dari Mekkah ke Madinah. Yang menarik adalah bagian akhir dari ayat ini, “Berikanlah kepadaku dari sisi engkau kekuasaan yg menolong”. Pada potongan doa ini, Nabi Muhammad memberi contoh bahwa untuk mencapai apapun, perlu ada usaha dan juga doa yg dilakoni secara simultan. Misalnya buka rumah makan, selain usaha secara fisik, perlu doa juga supaya rumah makannya banyak mendatangkan rejeki. tapi kalo berdoa tok tanpa mikir strategi pemasaran yang jitu, gimana rumah makannya bisa laris? Jadi, salah satu pesan yg menarik dari surat al-Israa’ ayat 80 adalah: usaha dan doa pada apapun yang sedang kita kerjakan”.

Ceramah ustadz Salman seolah ditujukan kepada dirinya seorang. Seolah ustadz Salman tahu apa yang dirasakannya saat ini. Mungkin selama ini, ia kurang berdoa, mungkin selama ini ia kurang bersungguh-sungguh dalam berusaha. Kata-kata ustadz Salman menjadi pencerahan bagi Syakir, di kala hatinya penuh dengan kebimbangan dan keputusasaan. Syakir bertekad menjemput hari esok dengan senyuman. Langkahnya kini menjadi lebih ringan, lebih mantap dari biasanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *