Setelah Empat Puluh Langkah

by December 10, 2016

Hari ini, di rumahku tiba-tiba penuh sesak orang. Tetangga berkumpul di sekitar halaman rumah. Rumahku yang biasa sepi dari pengunjung kini ramai bak kebun binatang. Seperti orang-orang berlomba-lomba datang melihat pertunjukan. Pak Irsyad terlihat bersama istrinya, datang menyapa ibu, bersalaman. Mereka terlihat, menghibur ibuku.  Beberapa orang yang lainnya juga datang, tampaknya kolega ayahku. Terlihat dari rangkaian bunga yang mereka bawa, tertulis nama instansi mereka masing-masing. Perempuan yang telah melahirkanku dua puluh tahun yang lalu itu terlihat sembab. Matanya merah,  Terlihat bulir-bulir bening yang menggenang di kedua matanya. Menunggu saat yang tepat untuk tumpah. Tetangga sekitar pun banyak yang datang, sekedar menengok keadaan rumah, bersalaman dengan ibuku, kemudian bergabung dengan yang lainnya di depan rumah. Entah apa yang mereka bicarakan bersama dengan yang lainnya. Bagiku terdengar seperti dengungan lebah, tidak terdengar jelas,

Aku adalah anak tunggal di rumah ini. Di rumah ini aku bagaikan seorang raja, yang cukup hanya mengucap saja, Maka semua keinginanku akan terwujud saat itu juga. Maklum, ayahku adalah seorang pengusaha yang cukup sukses, yang sedang melebar sayapnya ke kota-kota lain. Ayahku yang sebagian besar waktunya habis di tempat kerja, memberikan kasih sayangnya berupa berlembar-lembar uang jajan. Sedangkan ibu, hanya sesekali menengok rumah. Waktu yang menjadi saat-saat favoritnya adalah ketika awal bulan, menyerahkan segepok kebutuhan rumah. Mulai dari belanja, sampai biaya untuk kebersihan rumah. Tak terkecuali aku, semua kebutuhan aku selama sebulan dipenuhi oleh ibu di awal bulan. Bahkan tak jarang, uang yang diberikan berkali lipat dari yang seharusnya aku butuhkan. Sehingga di sekolah, aku cukup di kenal sebagai anak yang rajin mentraktir teman-teman.

Ketika ibu tak memiliki waktu untuk merawatku, Bi Isah selalu siap sedia dua puluh empat jam, memenuhi panggilanku. Ia sudah ikut dengan keluargaku sejak dua puluh tahun yang lalu, pekerjaannya yang gesit dan cekatan, membuat Bi Isah tetap dipercayai oleh ayah untuk mengurus rumah. Dari memasak sampai bersih-bersih. Kepercayaan yang keluargaku berikan dibalas dengan loyalitas yang tak terhingga oleh Bi Isah. Hanya Bi Isah yang masih bertahan, ketika teman-teman ayah menjauh dan pembantu yang lain mengundurkan dari, saat perusahaan ayahku diterjang masalah. Ekonomi keluargaku sedikit terguncang pada saat itu, tetapi Bi Isah tetap membantu keluargaku sampai perekonomian keluarga benar-benar pulih kembali.

Bi Isah pula yang mengurusi kebutuhan aku dari bangun tidur sampai tidur lagi. Hari ini, terlihat olehku, sosok yang dulu kuat, ketika aku masih kecil, kini lemah tak berdaya, Ketika aku dewasa. Umurnya tergambar seiring rambut yang memutih dan kulit yang makin mengendur.

“Kelak kamu akan jadi orang yang sukses”.  Itulah kata-kata yang selalu ia dengungkan untukku. Usapan lembutnya mampu mengusir kantukku di pagi hari, membimbingku menuju kamar mandi, walau kelopak mataku masih enggan terbuka, walau aku tertatih menuju kamar mandi. Bi Isah termasuk orang yang pandai memasak. Setiap pagi ia menyiapkan sarapan, berbagai jenis masakan ia kuasai. Bi Isah pernah berberita bahwa ketika masa mudanya dulu, ia sempat bantu-bantu di sebuah warung makan, sehingga tak heran apabila ia pandai memasak berbagai jenis masakan. Perhatian dari Bi Isah dari bangun tidur sampai membuatkan sarapan, tidak membuat aku rajin dan bersemangat ke sekolah.

Sekolah bagiku rutinitas yang membosankan. Berangkat pagi hari, pulang menjelang siang, berkutat dengan berbagai angka serta huruf yang membuatku semakin hari semakin bodoh, menurutku. Membolos menjadi pilihan yang tepat, ketika aku teringat bahwa hari itu aku belum mengerjakan tugas fisika. Daripada mendengar omelan ibu santi yang beruntun bak senapan mesin, lebih baik menghindar secepatnya. Aku selalu kabur sebelum mata pelajarannya, atau sengaja tidak masuk sekolah. Ketika aku tahu, hari ini aku belum mengerjakan tugas, dapat dipastikan, aku tidak akan sampai ke sekolah. Aku langsung berganti pakaian dengan pakaian biasa. Teman-teman sekelasku sudah hafal dengan kelakuanku, sehingga jarang ada yang menegurku. Toh, ketika mereka menegurku, dan aku tidak suka. Mereka akan terancam tidak dapat traktir makan siang, hehe.

Hanya malika, siswi kesayangan Bu Santi yang pernah menegurku, akibat kebiasaan “kabur” menjelang pelajaran fisika.

“Ari, kenapa kamu sering bolos ketika pelajaran Bu Santi?”

“Aku tidak suka pelajarannya.” Jawabku singkat. Fisika membuat sesuatu yang sederhana menjadi lebih rumit, kataku dalam hati.

“Kamu harus mencoba untuk menyukai pelajarannya.” Malika memberikan sanggahan.

“Kalau aku bilang tidak suka, ya tidak suka”. Aku membalas

“Kenapa sih kamu, ngurusin aku, aku kan yang tidak suka pelajaran fisika, kenapa kamu ikut campur? Apa ada pengaruhnya denganmu, kalau aku suka dengan fisika. Bisa jadi kalau aku suka dengan pelajaran fisika, kamu bisa tergusur tahta, sebagai murid kesayangan Bu Santi.” Tambahku, bersamaan dengan gaya tubuh seolah mengejek Malika.

“Tidak ada sih, hanya saja…”. Malika terdiam, tidak meneruskan perkataannya.

“Kamu pasti menyesal nanti”, ujarnya sambil bergegas pergi.

Tegurannya tidak aku respon. Sekali dua kali mungkin masih mampu, setelah berkali-kali aku tertawakan. Malika terdiam. Tidak pernah ia menyinggung tentang sekolahku lagi, tentang angka-angka merah di raportku. Atau sekedar melintaskan pandangan ketika aku berdiri di depan kelas, di saat pelajaran Pak Tatang. Pelajaran biologi yang ia sukai, tapi menjadi makanan asing untukku.

Aku tidak sendirian, ada Heri yang suka menemani aku, ketika aku bolos sekolah. Walau aku tidak sesering dia, tapi dia yang pertama kali menawarkan ide bolos sekolah, kabur dari pelajaran bu Santi. Gayung bersambut, ketika ia menawarkan tawaran menggiurkan itu.

Biasanya, kami habiskan jam berlajar di sekolah dengan pergi ke pusat swalayan, makan-makan di fast food. Dari nengintai gadis-gadis yang datang ke mall, sampai melihat-lihat pakaian, atau sekedar memilih gadget terbaru apa yang hari ini sedang promo.

“Ayo ri, kita pergi, kita jalan-jalan…”. Ajak heri suatu hari.

“Kemana her,..??” Tanyaku

“Udah ikut saja kita nongkrong,…”

Aku pergi bersama Heri, dengan menggunakan sepeda motor. Dia yang menyetir, sedangkan aku yang di belakang, membonceng. Melewati jalan raya yang biasa aku lalui ketika akan menuju mall biasanya. Mall sudah terlihat di depan mata, tetapi dia tidak berbelok memasukinya, ia malah memacu kuda besi ini makin cepat. Menyalip angkot yang ngetem di pinggir jalan, menyelip di antara keriuhan bus kota. Tenggelam bersama teriakan calo dan kernet bus yang berebutan mencari calon penumpang.

“Kita mau kemana?”. Tanyaku

“Ke rumah temanku.” Jawabnya singkat

Heri mengurangi kecepatannya, ketika memasuki sebuah komplek perumahan. Melewati pos keamanan, kemudian perlahan berbelok ke sebuah jalan dimana rumah-rumah mewah berjajar rapi. Melewati sederet polisi tidur, akhirnya kami sampai di sebuah rumah.

Aku lihat Heri mengeluarkan ponselnya, lalu mengirim sms. Tak lama kemudian, pintu gerbang rumah itu terbuka. Beberapa orang keluar, temannya mungkin.

Mereka mempersilahkan kami masuk. Sekilas aku melihat mereka berbisik, mungkin menanyakan kepada Heri, siapa yang dibawanya.

“Kenalkan ini temanku.” Heri mengenalkan aku kepada teman-temannya.

“Ari.” Ucapku sambil menjulurkan tanganku untuk berjabat tangan.

Kulihat di sekeliling rumah ini, sepi. Tidak terlihat tetangga hilir mudik. Aku masuk ke dalam rumah, ternyata banyak teman-teman Heri. Ada yang asyik bermain playstation, ada yang tertawa-tawa, sambil menenggak minuman. Ada pula yang asyik duduk berduaan di sudut ruangan dengan pacarnya.

* * *

Mobil ini meraung-raung, menembus kepadatan jalan, menerobos keriuhan lalu lintas. Melewati gerobak pedagang kaki lima yang berjajar, juga kios-kios di sepanjang jalan ini. Mulai dari rumah makan, toko kelontong sampai minimarket.  Lampu merah tidak mampu menahan laju mobil yang aku tumpangi ini. Seperti peluru yang keluar dari selongsongnya, tak mampu tertahan lagi. Sayup-sayup terdengar adzan, dari sebuah masjid di tepi jalan. Suara yang rutin selalu aku dengar, akan tetapi jarang aku hiraukan. Setelah hari ini, mungkin aku akan jarang mendengarnya. Dulu ustadz Hilmi, guru pengajianku yang selalu mengingatkan aku untuk selalu menjaga solat lima waktu. Setelah anak-anak mengaji, ia selalu memberikan wejangan, kadang beliau sisipkan candaan segar.

“Jangan pernah kalian meninggalkan solat lima waktu, kecuali dalam keadaan darurat. Islam sangat menekankan kewajiban yang satu ini”.

Nabi saw bersabda: “Di hari perhitungan nanti, solatlah yang menjadi tolak ukur amal seseorang, bila solatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya, bila solatnya rusak, maka rusaklah seluruh amalnya.” Jelas Ustadz Hilmi.

“Jadi kita hanya perlu solat saja dong, tidak perlu puasa dan zakat”. Celetuk Malik sekenanya.

“Yang tidak seperti itu maksudnya, dalam hadist ini, Nabi SAW sangat menekankan pentingnya solat, solat menjadi prioritas pertama dari sekian banyak ibadah dalam agama Islam.  Kita lihat, ibadah yang paling banyak ditinggalkan adalah kewajiban solat. Begitu pentingnya solat, sehingga perintah solat tidak cukup diwahyukan melalui al-Qur’an. Nabi sendiri yang dipanggil oleh Allah menuju arsy, untuk menerima perintah solat. Peristiwa ini kita kenal dengan isra dan mi’raj. Dalam pelaksanaannya, bila kita tidak memungkinkan untuk berdiri, di bolehkan duduk, kalau tidak bisa duduk, boleh berbaring, kalau tidak bisa berbaring, cukup dengan isyarat mata”. Tambahnya

“Kalau tidak bisa juga, gmna pak?”

“Kalau tidak bisa solat, ya disolatkan…tandas ustadz hilmi, dilanjut dengan tawa renyah anak-anak meledek Malik.

Ustadz Hilmi, menutup kitabnya, al-wa’du wal waid. Kemudian melanjutkan wejangannya.

“Siap ya? Untuk selalu menjaga solat lima waktu, solat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar”. Ucap tegas ustadz hilmi, sesaat sebelum kami kami bersalaman, pamit pulang ke rumah masing-masing.

Mengaji di rumah ustadz Hilmi adalah rutinitasku dahulu, ketika SMP. Setiap sehabis maghrib aku pergi ke rumah ustadz Hilmi bersama teman-teman sebayaku untuk belajar ilmu agama. Ustadz Hilmi tidak pernah memungut bayaran atas jerih payahnya membimbing kami belajar. Hanya beberapa orang tua yang kadang ke rumah beliau, bersilaturahmi. Mengucapkan terima kasih, sambil membawa gula dan kopi, atau kadang membawa amplop berisi uang. Setiap malam ustadz Hilmi tidak hanya mengajarkan kami bagaimana cara membaca al-Qur’an yang baik, akan tetapi juga bagaimana bertingkah laku yang baik, dengan sesama teman maupun dengan orang yang lebih tua dari kami. Beliau juga kadang membantu kami, ketika kami kesulitan dalam mengerjakan tugas sekolah.

* * *

Aku tersadar ketika kesehatanku kian lama, kian memburuk. Obat biasa sepertinya tidak mampu untuk meringankan sakitku. Hanya Bi Isah, dan keluarga dekatku yang hilir mudik mengantarkan aku ke rumah sakit. Dari berobat sampai dirawat. Heri dan teman-temannya tidak terlihat. Ketika aku dalam kondisi seperti ini, ia tidak menampakkan batang hidungnya.

Aku menyesal mengapa dahulu aku banyak membolos, membuang-buang waktuku dengan hal-hal yang tidak berguna. Aku menyesal tidak menghiraukan perkataan Malika, aku menyesal tidak lagi mengaji pada ustadz Hilmi. Aku menyesal mengapa aku banyak menghamburkan uang yang diberikan oleh ibuku. Aku menyesal mengapa aku berteman dengan orang yang salah. Aku sadar, sesal kini tidak ada guna.

Tubuhku bertambah kurus. Rambut di tubuhku permisi satu-persatu meninggalkan kulit. Aku tidak tahu penyakit apa yang menggerogoti tubuhku. Kata mereka, ini penyakit langka. Penyakit yang diakibatkan kutukan Tuhan kepada orang-orang yang melampaui batas. Aku masih bisa merasakan, ketika mereka membopongku, melucuti seluruh pakaianku. Memandikanku, dan menyolatkan aku.

Aku pasrah ketika mobil yang membawaku perlahan menurunkan kecepatannya. Melewati beberapa tikungan, menuju tempat peristirahatan terakhir. Tempat pemakaman umum. Hanya untaian doa yang kini aku harapkan, ketika mereka perlahan menurunkan tubuhku ke dalam liang yang hanya berukuran satu meteran lebih. Setelah menimbunnya dengan tanah, dan menyiramkan air serta menaburkan bunga, perlahan mereka pergi. Satu-persatu meninggalkanku sendirian disini. Derap-derap langkah semakin lirih. Aku menantikan, apa yang terjadi, setelah empat puluh langkah.

*Muhammad Arif Rahmat, Santri Krapyak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *