Tanpa Keluh Kesah, Hidup Kian Berkah!

by August 10, 2020

Sudah mengeluh berapa kali hari ini?  Sekali, dua kali, sering kali atau tidak pernah mengeluh sama sekali? Oh iya,  setiap orang pasti pernah mengeluh,  sejak balita hingga orang tua,  pria maupun wanita, tidak peduli papa maupun kaya raya, bahkan orang terpelajar hingga orang yang kurang ajar, hampir semua pernah berkeluh kesah. Mengeluh sepertinya menjadi semacam karakter bawaan manusia yang timbul ketika sedang mendapat masalah atau kesempitan. Al-Qur’an memberi narasi tentang kebiasaan berkeluh kesah dalam surat al-Ma’arij di bawah ini:

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا

Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Ketika ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah. Ketika mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir“. (QS. al-Ma’arij [70]:19-21.

Terjemah di atas sengaja saya ambil dari al-Qur’an dan Tafsir jilid 10 (edisi yang disempurnakan) yang diterbitkan oleh Kementerian Agama. Dalam ayat tersebut terdapat  kata halu’ yang di tafsirkan suka mengeluh. Agar kelihatan ilmiah, mari kita tengok di Kamus Almunawwir, kamus kebanggaan santri Krapyak. Kata هلوع  berasal dari kata هلع-يهلع-هلعا  yang artinya adalah berkeluh kesah, gelisah, cabar hati. Manusia dinarasikan oleh al-Qur’an sebagai makhluk peratap. Kegelisahan ini akan semakin menjadi saat bersentuhan dengan kesusahan. Jadi wajar ya…,  kalau kita suka mengeluh, betuul? Apalagi mengeluh dianggap sebagai obat mujarab yang dapat mengurangi beban pikiran kita.  Wah-wah, jadi dapat pembenaran nih, bagi yang suka mengeluh. Eiit….! tapi nanti dulu, jangan keburu seneng….! penjelasannya masih berlanjut.

Sifat halu’ (gelisah, cabar hati) bisa bernilai positif tapi juga negatif, tinggal bagaimana pengelolaannya. Sisi positifnya, dengan kegelisahan yang dirasakah mempu mendorong seseorang untuk mencari solusi atas pemasalahan yang dihadapinya kemudian berusaha bangkit dan terus mencari cara guna mencapai cita-cita atau perubahan kualitas hidup yang lebih baik. Naluri ini akan berubah menjadi negatif jika menjadi sebuah kebiasaan yang berlebihan dan banyak bersinggungan dengan sifat keburukan lain serta tidak berusaha mengimbanginya dengan sifat-sifat kemuliaan. Orang yang berlebihan dalam berkeluh kesah cenderung memiliki masalah dengan kondisi mental maupun spiritualnya.

Mental seseorang yang terbiasa mengeluh biasanya selalu merasa tertekan, sensitif, sering protes dan mengalami penurunan fungsi kognitif dan emosi. Ia lebih sering mencari kambing hitam dari pada membeli kambing putih, eh… ngelantur.. maksudnya solusi yang mencerahkan hati.  Sikap seperti itu tidak pernah bisa membantunya keluar dari masalah yang membelitnya, yang terjadi semakin kalut dan kusut…. kambing hitamnya tidak ketemu … yang ketemu … justru masalah-masalah baru, karena setiap orang menganggap sebagai seorang mudah putus asa.  Coba kita renungkan perkataan Mario Teguh:” Hidup ini memang tidak mudah. Dan jadi lebih sulit jika kita hanya mengeluh dan menyalahkan orang lain“.

Dari sisi spiritual, wah kalau yang ini bicara masalah keimanan … perlu kehati-hatian. Mudah-mudahan tidak salah. Mari kita tengok Nasehat yang terdapat dalam Kitab Nashaihul Ibad karya Imam Nawawi al-Bantani berikut:

مَنْ أَصْبَحَ وَهُوَ يَشْكُو ضَيْقَ الْمَعَاشِ فَكَاَنَّمَا يَشْكُو رَبَّهُ وَمَنْ أَصْبَحَ لِأُمُوْرِ الدُّنْيَا حَزِيْنًا فَقَدْ أَصْبَحَ سَاخَطًا عَلىَ اللهِ وَمَنْ تَوَاضَعَ لِغَنِيٍّ لِغِناَهُ فَقَدْ ذَهَبَ ثُلُثَا دِيْنِهِ

Barang siapa di pagi hari mengeluhkan kesulitan hidupnya (kepada orang lain) berarti seakan dia mengeluhkan Tuhannya. Barang siapa yang bersedih di pagi karena urusan duniawinya maka sungguh di pagi hari ia tidak puas dengan ketetapan Allah. Barang siapa yang mengormati orang karena kekayaannya sungguh telah lenyaplah sepertiga agamanya”         

Pesan di atas secara tersirat melarang kita memelihara kebiasaan syikayah, yaitu mengeluhkan keadaan yang dihadapi kepada orang lain. Mengeluh tidak ubahya dengan menggugat taqdir Allah SWT yang digariskan bagi seorang hamba. Ia merasa tidak terima dengan anugrah Allah SWT. Meski ketidakpuasan adalah sebuah hal yang bisa dimaklumi, tetapi bagi seorang muslim, apalagi santri hendaknya langsung diadukan kepada Allah bukan kepada sesama. Nabi juga mengajarkan beberapa doa hal agar kita mengadukan setiap masalah kita hanya kepada Tuhan, sebagaimana  ratapan Nabi Musa ketika menghadapi Bani Israil.

اَلَّلهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ وَاِلَيْكَ الْمُشْتَكَى وَاَنْتَ الْمُسْتَعَانُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ اْلعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

Ya Allah, segala puji hanya milikMu, hanya kepada Engkaulah kami mengadu dan hanya kepadaMu kami mohon pertolongan. Tiada daya untuk menjauhi maksiat dan tiada kekuatan (untuk taat), kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Agung

Nah, keadaan apapun yang kita hadapi, manis maupun getir semua kita kembalikan kepada Allah. Tidak mudah memang, merubah kebiasaan mengeluh, pesimis menjadi pribadi yang positif dan optimis. Tapi santai saja, semua bisa kita lakukan asalkan kita memiliki keningin untuk berubah. Meski tidak bisa berubah 180 derajat minimal kita mengurangi kebiasaan negatif tersebut.  Di bawah ini adalah adalah beberapa beberapa tips sederhana agar tidak mudah mengeluh:

1. Selalu berpikir positif atau husnudhon

Akal manusia dalam sehari berusaha berpikir kurang lebih 60 ribu kali. Coba renungkan apa jadinya jika sebagian pikiran yang mucul dalam pikiran kita adalah bernada negatif?   Apa jadinya jika pikiran yang keluar selalu rasa pesimis, su’udhan, skeptis dan berbagai macam pikiran negatif lainnya. Begitupun sebaliknya, betapa banyaknya keajaiban yang akan muncul jika kita selalu berpikir positif. Karenanya, jika sedang menghadapi masalah, apapun bentuknya biasakan untuk melihat sisi positinya. Jangan pernah melihat dari sisi negatifnya, karena bisa melemahkan mental kita. Ingat segala sesuatu sangat tergantung bagaimana cara memandangnya. Jika melihatnya dengan cara positif maka hasilnya akan baik, begipun sebaliknya. Sikap seperti ini juga akan menumbuhkan keimanan dan ketenengan dan ketentraman dalam hidup. Ia yakin bahwa Allah adalah pemilik dan penetapan dari segala sesuatu yang ada di muka bumi ini. Segala sesuatu adalah semat-mata berjalan atas kehendak Allah.

2. Hati-hati dalam mengeluarkan kata-kata

Orang tua kita selalu memberikan wejangan kepada kita bahwa kata-kata adalah doa dan harapan.  Kata yang terucap dari lisan kita akan berpengaruh terhadap masa depan kita. Ketika kita mengucapan sesuatu seolah kita sedang membuat masa depan kita.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رُضْوَانِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

Riwayat  dari Abu Hurairah, Nabi SAW pernah bersabda: sesungguhnya seorang hamba yang berbicara dengan ucapan yang diridhai Allah tanpa berpikir panjang akan diangkatnya beberapa derajat dengan ucapannya. Dan seorang hamba yang mengeluarkan ucapan yang mendatangkan murka Allah tanpa berpikir panjang, Allah akan menjerumuskannya ke neraka Jahannam sebab kata-katanya (HR. Bukhari)

Kata-kata sangat berpengaruh besar dalam hidup kita, bagi diri kita maupun orang lain. Pastikan bahwa kata-kata yang keluar dari mulut kita adalah kata-kata yang positif. Kata-kata dan pikiran bisa mempengaruhi hormon-hormon di dalam tubuh kita.  Ingat penelitian Dr. Masaru Emoto dalam buku  The True Power of Water yang berhasil membuktikan bahwa informasi yang ditiupkan ke dalam air bisa merubah bentuk molekul dan kualitasnya. Jika kata yang sampaikan adalah kata-kata yang bersifat positif maka molekul yang terdapat dalam air akan berubah menjadi sekumpulan  kristal yang membentuk semacam rangkaian bunga yang sedang mekar penuh keindahan. Sebaliknya jika informasi yang ditangkap oleh air adalah kata-kata yang negatif maka akan menghasilkan gumpalan-gumpalan kristal yang tidak beraturan layaknya pecahan kaca yang berserak. Bagaiamana dengan manusia? 70% bagian yang ada di dalam tubuh manusia berbentuk cairan. Konsekuensi logisnya adalah sebagai makhluk yang sebagian besarnya berisi air maka informasinya yang diterimanya harusnya juga informasi yang baik.

Ada baiknya kita renungkan kembali ucapan Imam al-Kasai yang dinukil Imam an-Nawawi dalam Kitab Nashaihul ‘Ibad berikut:

احْفَظْ لِسَانَكَ اَنْ تَقُوْلَ فَتُبْتَلَي * ِانَّ البَلَاءَ مُوَكَّلٌ بِالْمَنْطِقِ

Jagalah lisanmu jika tidak ingin terkena musibah, sesungguhnya bencana itu terwakilkan pada apa yang diucapkan

Keluhan yang kita ucapkan berulang-ulang akan berubah menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasan yang berjalan terus membentuk watak. Watak begitu melekat dalam setiap perilaku sehingga apa yang menimpa kita berawal dari kata yang terucap. Kini saatnya kita menghentikan kebiasaan mengeluh dan berkeluh kesah di hadapan manusia. Hidup ini memang dinamis dan tidak semudah membalikkan tangan, ombak kesedihan dan kebahagiaan datang silih berganti, bahkan ada hal-hal yang datang di luar kendali. Belum lagi jika harus berhadapan dengan pilihan hidup yang sulit. Jangan biarkan pikiran kita mendorong lisan untuk menggerutu, mengeluhkan keadaan, menilai negatif. Tak apalah jika semua itu terlanjur kita lakukan pada masa silam, kini saatnya kita sambut keberkahan dan keajaiban hidup dengan segera move on berusaha menjadi pribadi yang rasa optimisme tinggi. Ingat ! mengeluh tidak akan pernah bisa merubah kehidupan kita ke arah yang lebih baik, tapi justru orang lain menjadi ill feel . Jika memang harus berkeluh kesah dan mengadukan kegundahan kita,  tempatnya adalah Allah SWT. Allah berjanji akan menyelesaikan segala masalah kita, karena Allah Farijul Hamm, Dzat yang menghilangkan kesedihan  dan Kasyiful Ghamm, Dzat yang menyirnakan kesusahan. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *