Tukang Judi Naik Haji

by July 29, 2020

Yu Sum. Biasa saya memanggilnya, pemilik warung sate kambing, langganan semenjak masih SMA. Suami Yu Sum namanya Kang Dul. Lulusan universitas sekolah dasar tapi dari tutur kata dan pemikirannya nampak sebenarnya Kang Dul pintar dan cerdas.

Sayang Kang Dul masa kecil hidup dengan keluarga yang kurang menjadikannya norma dan aturan agama kurang familier dalam kehidupan sehari-hari, termasuk hobi berjudi.

Walau awal kenal sebagai pelanggan warungnya. Namun saya dan keluarga Kang Dul sudah seperti ada ikatan batin persaudaraan. Sering kalau berkunjung ke warungnya, Yu Sum dan Kang Dul mengajak ngobrol berlama-lama, tapi saya tetap mbayar, hanya saja porsinya sama Yu Sum diam-diam sering ditambahi.

Kalau di warung Kang Dul sedang pergi, Yu Sum biasanya curhat tentang suaminya yang hobi berjudi, nggak mau Sholat dst. Dan kalau diingetin sama Yu Sum atau anaknya, tangan Kang Dul yang bicara dan menjawabnya. Astagfirullah.

Beda dengan Kang Dul kalau Yu Sum orangnya Muslimit saking Muslimatnya. Sholat tekun, figur Isteri yang sholihah, taat dan menghargai Suami. Pandai cari duit dan sukses mendidik anak, semua anaknya lebih condong mengikuti track Ibunya. Pada rajin sholat dan ngaji, sekolahnya pinter-pinter. Kebetulan ketiga anak Kang Dul dan Yu Sum putri semua.

Sering saya ngomong sama Yu Sum dan anak-anaknya agar selalu mendoakan Kang Dul supaya mendapat hidayah, mau sholat berhenti judi dst, dengan cara setiap habis Sholat bacakan Asmaul Husna Ya Allah Ya Haadi. Ya Allah Dzat Yang Maha Memberi Petunjuk sebanyak satu putaran tasbih atau 99 kali dan akan saya bantu semampunya.

Suatu saat saya mau Aqiqohan anak pertama. Kang Dul kumintai tolong untuk mencarikan kambing yang bagus sekalian nyembelihnya nanti tinggal memasak. Karena Kang Dul memang nyambi jual beli Kambing, langsung saya bayar lunas, sempat Kang Dul nggak sanggup untuk urusan nyembelih dengan alasan yang punya hajat Pak Kyai, ia mau minta tolong Mbah Kaum yang nyembelih kambingnya Tapi saya perintahkan pokoknya yang nyembelih harus Kang Dul! Titik!.

Waktu Daging sembelihan kuambil, saya agak kaget melihat Kang Dul pagi itu berpakaian rapi memakai peci seperti orang mau Jumatan dengan wajah serius tidak seperti biasanya Kang Dul mengajakku duduk di ruang tamu.

Kang Dul bercerita kalau semalam nggak bisa tidur karena mikirin nyembelih kambingku, masak orang nggak pernah sholat kok berani nyembeleh kambingnya Pak Kyai. Akhirnya menjelang Subuh Kang Dul membangunkan anaknya untuk pinjam buku tentang Sholat sekalian minta diajari prakteknya, baru setelah habis Sholat Kang Dul berani menyembelih kambingku. Habis bercerita Kang Dul langsung aku peluk. Terima kasih Ya Allah hidayahMu telah datang.

Cerita lain. Yu Sum sudah lama sering mengutarakan niatnya untuk naik Haji dengan uang tabungan yang ia sisihkan bertahun-tahun. Saat dirasa cukup ia datang ke rumahku dengan anak sulungnya sekalian menjelaskan bahwa Kang Dul sudah dilobi anggota keluarga untuk daftar haji bareng Yu Sum, tapi Kang Dul tetap tidak mau. Alasannya Sholatnya belum lama dan masih banyak dosa entar bikin kotor KA’BAH.

Paginya Kang Dul kulobi langsung. Jawabannya sama biar Yu Sum dulu yang berangkat Haji, ntar ia akan menyusul kalau Sholatnya sudah baik dan dosanya sudah berkurang dan tidak bikin kotor Ka’bah. Saatnya mengantar Yu Sum pakai mobilku untuk mendaftar Haji. Kang Dul diajak ngikut nggak mau. Akhirnya saya paksa harus ikut karena Yu Sum bukan mahrom.

Selama proses mendaftar Haji dari Kantor Urusan Haji sampai Bank. Yu Sum cemberut terus nggak ngomong sepatah katapun sama Kang Dul, karena marah suaminya diajak daftar Haji bareng nggak mau Saya juga ikut diemin Kang Dul. Alhamdulillah hampir setengah hari lebih proses mendaftar Haji Yu Sum selesai lancar.

Ketika ngantar pulang ke rumah. Yu Sum masih kelihatan cemberut marah, bahkan turun dari mobil langsung masuk rumah tanpa ngomong. Kang Dul yang turun dari mobil belakangan seperti orang bingung juga nggak ngomong kaya orang bisu. Akhirnya kuajak salaman sambil pesan, kalau ada masalah silahkan datang ke rumah.

Pagi harinya, masih jam setengah enam pagi, tiba-tiba Kang Dul sendirian datang ke rumahku naik sepeda onthel, ngomong kalau semalam nggak bisa tidur mikirin Isterinya yang mau naik Haji sendirian. Setelah Sholat subuh Kang Dul akhirnya memutuskan untuk ikut mendaftar mendampingi Yu Sum naik Haji. Allahu Akbar!

Langsung Kang Dul saya suruh pulang untuk segera mempersiapkan persyaratan yang diperlukan dan nanti jam setengah delapan saya ampiri untuk proses daftar Haji. Sempat Kang Dul minta tempo tiga hari dengan alasan uangnya belum genap. Kebetulan saat itu saya pegang uang yang cukup untuk bayar ONH, tak pinjami dulu. Kang Dul setuju. Alhamdulillah proses pendaftaran Kang Dul juga lancar. Saat pulang ke rumah Yu Sum dan ketiga anaknya menyambut Kang Dul sambil saling berpelukan haru, jujur saya juga terharu sambil pamitan pulang tanpa terasa mata menjadi buram. Allah Maha Kuasa dan Maha Besar.

Semenjak Kang Dul resmi sudah tercatat sebagai Calhaj yang saat itu langsung berangkat tanpa daftar tunggu, kehidupannya berubah 180 derajat. Semua yang bau maksiyat ia tinggalkan total. Kalau ngobrol layaknya sudah kaya Ustad, memang Kang Dul punya kelebihan pintar dan lancar berbicara. Logikanya juga nyanthel dan kena.

Rasulullah SAW bersabda: “Attaaibu minadzdzanbi kaman la dzanba lahu” Orang yang sudah bertaubat dari dosa itu seperti orang yang tidak punya dosa”. Semua persiapan Haji dari Manasik sampai upacara Walimatussafar. Saya yang handle jadi Panitianya. Alhamdulillah sampai proses kepulangan Kang Dul dan Yu Sum dari Tanah Suci semua berjalan lancar dan keduanya dalam kondisi sehat dan bugar.

Kehidupan rumah tangga Kang Dul dan Yu Sum pasca Haji betul – betul Sakinah mawaddah warrokhmah. Namun Allah SWT punya kehendak lain, hanya beberapa bulan dari kepulangan Haji Kang Dul harus kembali ke haribaan-Nya lantaran sakit mendadak. Inna lillaahi wainnaa ilaihi rooji’un. Selamat jalan Kang Dul. Aku menjadi saksi, engkau sering cerita kepadaku bahwa saat Haji bisa berkali-kali memegang KA’BAH. InsyaAllah KA’BAH tidak menjadi kotor karena engkau pegang, seperti yang Kang Dul khawatirkan dulu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *